Rabu, 15 Februari 2017

Rindu yang Basah

Rindu datang lalu ia memutuskan membeli kertas cantik untuk mengemas. Ternyata hujan berkali-kali jatuh setelahnya, dan tak ada yang mampu ia selamatkan: kertas cantik ataupun rindu yang basah.

Sabtu, 10 September 2016

Rajah

"Barangkali selamanya akan seperti ini, ketika kamu sudah bisa kembali merasakan seperti apa itu normal, di saat-saat tertentu perasaan itu datang lagi. Merasa terasing, mata awas warasmu diambil, lalu sejenak tidak berfungsi."

Mungkin ini adalah rajah yang akan ia bawa seumur hidupnya. Tugasnya adalah menemukan cara bagaimana mengatasinya bila sewaktu-waktu tanpa pamit terlebih dulu ketakutan itu merengut fungsi hidupnya.

Kamis, 01 September 2016

Gemetar

Tangannya takut
Kakinya takut
Punggungnya, sepertinya tidak takut
tapi membungkuk seperti orang tua yang tidak kuat menopang tulang-tulang sedikit otot tak ada lemak

Senin, 22 Agustus 2016

Seperti Bayi Merah

Ia mengumpamakan seperti orang dewasa yang disulap menjadi bayi merah tapi engkau, bayi merah itu, masih ingat engkau pernah sudah tak di kondisi tak bayi merah, sudah pernah dewasa. Engkau lupa bagaimana rasanya dewasa, tapi engkau ingat sudah pernah tak jadi bayi merah lagi.

Maka, katanya, kadang ingin buru-buru ada di posisi dewasa lagi. Padahal bayi merah harus membangun semuanya pelan-pelan: perkenalan (kembali) terhadap rasa percaya, rasa aman, rasa tak asing pada dunia, mengenali afeksi, semuanya harus dikenali dan dibangun kembali perlahan. Jangan dipaksa, baik oleh diri sendiri atau sekitar.

Perlahan, sabar, pelan-pelan, butuh waktu.

Pemaksaan hanya akan membangun benteng yang prematur. Segera ambruk, lebih buruk lagi, robohannya bisa membunuh bayi merah.

Kamis, 18 Agustus 2016

Kapan Sudah

"Saya suka merasa clueless dengan diri sendiri," matanya menghindari kontak, seharian tadi ia baru saja menghabiskan waktu dengan manusia lain. Pergi konseling, lalu pergi nonton dan makan dengan pendampingnya yang lain dan teman dekat.

"Dari pertemuan pertama dua bulan lalu ke sekarang sudah banyak kemajuan. Terlihat lebih fresh dan tenang :)" ia menirukan ucapan konselornya. Ia juga menyadarinya, dan memang itu tujuannya menarik diri dulu dari orang-orang: memberi waktu pada dirinya, agar tenang, bisa berdamai dengan diri sendiri lalu bisa kembali mencintai dirinya agar bisa kembali punya mimpi lalu bisa melanjutkan hidup dengan mandiri. Semoga lekas, ia berharap.

Menonton, makan, mengobrol, tiga jam dan ia sudah mulai merasa kelelahan. Tak apa, pertemuan kali ini ia menyadari satu hal: ia takut dengan waktu sekarang dan dirinya yang sekarang sehingga ia membenci waktu sekarang dan dirinya, berharap segera besok atau nanti kapanpun yang bukan sekarang karena berharap nanti kondisinya sudah baik, sudah sembuh. Main dengan manusia kali ini membuatnya sadar itu sebab kali ini dia bisa menikmati waktu sekarang, mencintai dirinya yang sedang menonton dan makan itu, nyaman dan bisa berinteraksi tanpa ketakutan yang disimpan diam-diam. Bahwa tiga jam sudah merasa lelah, cukup terbayar dengan ia mulai bisa mencicipi rasanya kembali mencintai sekarang, ia jadi paham kenapa orang-orang normal di sekelilingnya bisa mencintai hidupnya, mencintai aktivitasnya sehari-hari tanpa merasa asing mengapa masih berada di hidup ini alih-alih memilih mampus.

Paling sepulangnya hanya butuh menangis sepuasnya, tak akan ada panic attack. Hitungannya benar, tak ada panic attack. Ia menangis sembari mengigau minta obat tidur seperti sudah-sudah. Tentu saja tidak diberi. Menangis setelah bertemu manusia memang situasi yang tidak mudah baginya. Di saat seperti itu rasa bencinya pada diri sendiri muncul kuat. Karena ia tahu ia sedang tak bisa benar-benar sadar, ia sedang tidak bisa mengontrol dirinya dan berfungsi sebagaimana manusia seharusnya, ia sedang dibayangi oleh ketakutan dan itu membuatnya membenci benar.

Tapi ini akan segera terlewati, bertemu manusia lalu sejenak kembali tidak waras hanyalah bagian dari proses yang harus dilewatinya untuk sembuh. Ia puas menangis dan mengigau, sudah lebih tenang. Nanti bisa berlatih bertemu manusia lagi.

Tapi ternyata, setelahnya, datang serangan tak ia duga dan belum pernah ia tahu, itu membuatnya shock. Kepalanya sakit sekali, kepercayaan dirinya yang sedang pelan-pelan ia bangun seperti diserang tiba-tiba, direngut tanpa sisa, sisa dirinya yang gamang dihempaskan ke kolam renang tanpa dasar yang menakutkan. Ia limbung, rasa bencinya menjadi-jadi. Ia benci dengan dirinya yang sedang diserang perasaan yang ia belum tahu apa. Ia benci pada dirinya yang sepulang bertemu teman dekat saja kelelahan. Ia benci, ia benci. Ia benci bertemu orang. Ia benci tak bisa berfungsi normal selain bersama pendamping. Ia benci, ia hanya ingin sudah, ingin sudah. Sudah. Sudah. Hari esok atau nanti atau kapanpun yang bukan sekarang tak akan pernah membaik, tidak akan pernah ada baik. Ia hanya ingin sudah, tapi ia tahu, ia masih takut mati. Tapi ia ingin sudah. Ingin sudah.

Ternyata ada yang lebih menakutkan dari serangan kepanikan, adalah semacam serangan kosong setelah kesembuhan yang sedang pelan-pelan kau bangun direngut tiba-tiba, tiba-tiba seperti kamu mengedip semuanya sudah hilang direngut, tak ada pertanda, tak ada alarm ketakutan mendesir sebelumnya. Sekedip mata kamu ditinggalkan kosong dan terkejut. Tak bersisa, tak berdasar. Tubuhmu seperti tidak nyata, dan tidak ada yang ditinggalkan untuk bisa berharap esok lebih baik. Itu menakutkan, melebihi serangan ketakutan.

Jumat, 12 Agustus 2016

Tangis

Hari ini ia menangis. Menangisi ketakutan yang selama ini tak pernah ia tangisi. Rasa takut yang selama ini ia hadapi dengan marah sebab yang ia tahu agar tetap bertahan hidup ia tak boleh lemah atau terlihat lemah agar tidak ambruk. Tapi ternyata itu hanya melumatnya pelan-pelan, hingga tak ada bagian dirinya yang tersisa. Dan ia kehilangan diri. Ia menangis untuk apa yang telah hilang dan akan ia rebut kembali.

Rabu, 10 Agustus 2016

Takut, Marah dan Setan

Perasaannya kacau. Janji konsultasi dengan dengan konselor berantakan karena admin lembaga luput. Konsultasi kali kedua, sengaja ia memberanikan datang sendiri tanpa didampingi siapa-siapa, batal dan konselornya sedang tidak ada di tempat. Menempuh perjalanan umum dari kota T ke kota J nyaris dua jam.

Ia ingin menangis di tempat, tapi ia sanggup menenangkan diri. Ia ingin marah -- perasaan-perasaan, rasa sakit, ketakutan, kisah-kisah, dan rahasia yang berhasil ia simpan dengan baik yang hanya ingin ia ceritakan kepada konselornya seorang terasa sejenak merengut, tapi ia sanggup mengendalikan  diri dengan lekas. Ia tidak jadi menangis, ia tidak jadi marah, tapi ia masih kacau. Gamang, pulang -- menangis lalu tidur seharian -- atau menemui teman dekat yang janji pertemuan datang darinya.

Ia membenci berjumpa dengan orang, orang-orang yang mengenalnya dan ia kenal. Ia senantiasa ketakutan sebelum perjumpaan yang direncana atau tidak, ia takut tidak bisa mengobrol dengan baik, ia takut kikuk, ia takut orang-orang itu tidak bisa menerima dan memakluminya jika ia hanya diam, atau tenaganya sudah habis untuk pura-pura terlihat baik-baik saja dan untuk terlibat dalam percakapan, bahkan bila dengan yang dulu ia anggap teman terdekat sekalipun. Ia tidak bisa menikmati perjumpaan dengan manusia.

Tapi kapan lagi ia berani bertemu dengan teman, ia sendiri yang menawarkan, dalam waktu yang tampaknya akan agak lama -- lebih dari satu dua jam batas kesanggupannya bertemu dengan orang lain sebelum ini-- dan sendirian, tanpa ditemani orang yang mendampinginya berpergian keluar selama ini. Ia memutuskan tetap memberanikan diri. Ia sudah menghitung, rasanya ia dalam kondisi mental yang sudah lebih siap untuk menambah daftar orang yang mentalnya ia percaya untuk ia temui secara personal dan sendirian, orang yang akan ia temui ini ingin ia masukkan ke dalam daftarnya yang sebelumnya berisi tiga orang saja.

Ia menemui orang itu, teman perempuannya. Ia bisa mengobrol dengan baik, ia berani terbuka, kemampuannya bercanda dan menggoda orang datang kembali. Itu membuatnya senang, sejenak kembali percaya diri. Mereka pergi ke museum galeri. Datang teman dari teman perempuannya, ia mengenal sudah agak lama, banyak orang-orang di antara mereka yang terhubung dan itu bisa jadi bahan obrolan. Ia agak takut sebelum orang lain itu datang, seperti yang sudah-sudah, ia takut tidak bisa merespons obrolan dengan baik, ia takut terlihat takut, ia takut dengan orang lain. Tapi ia lagi-lagi bisa mengendalikan ketakutannya, orang lain itu datang dan mereka mengobrol. Ia berani bertanya dan mendengarkan, antusiasme terdahap orang lain yang selama ini hilang. Ia bisa menikmati perjumpaan. Itu membuatnya senang.

Tapi ternyata lima jam adalah batas kesanggupannya. Ia sudah mulai linglung, jalan menyasar, lupa letak toilet yang sudah ia tahu satu jam lalu dan masuk ke toilet dengan membenturkan kepala ke tembok, tidak sengaja tentu. Ia memutuskan pulang. Sepanjang jalan pulang ia terus ingin menangis, ternyata ia masih belum bisa seperti dulu, ia belum bisa mendapatkan dirinya kembali, bagaimana jika orang lain tadi tidak bisa memakluminya ia yang mulai terlihat linglung dan aneh di obrolan, bagaimana bila ia terlihat sedih dan selalu sedih padahal orang normal tidak boleh melulu terlihat sedih.

Tapi ia sanggup mengendalikan dirinya lagi. Ia menenangkan diri dengan, lima jam adalah perkembangan dan tingkat daya tahan yang baru untuknya. Ia senang, ada peningkatan, tinggal banyak-banyak berlatih. Berlatih bertemu manusia, terutama yang ia kenal dan mengenalnya.

Ia tidur.

Tengah malam saat terbangun, panic attack menyerangnya. Beberapa kali ia mendapatinya, kali ini agak ringan. Ia tidak tengah tidur sendirian dan yang ada di sampingnya adalah orang yang ia percaya, itu membantunya. Pagi hari saat bangun lagi, panic attack masih kembali: ia menangis, bergemetar, ketakutan, sesak, tidak mau bertemu orang, tidak mau berbicara, tidak benar-benar sadar, dan marah. Orang yang ia anggap sudah mati dan ia sedang tidak mau berurusan sama sekali karena ia bertekad ingin bisa sembuh: bisa kembali seperti ia yang dulu, mencintai hidup, bisa mencintai dirinya lagi, memaafkan dirinya, berdamai dengan dirinya, memaafkan semua yang sudah terjadi di belakang sana -- kembali muncul di pikirannya dan membuatnya marah. Marah karena orang itu telah membuat ia jadi seperti ini, kehilangan diri.

Ia marah bercampur takut ternyata alam bawah sadarnya masih ketakutan dengan hadirnya ia yang dulu: senang bertemu orang, terbuka, senang bercerita dan mendengarkan cerita, percaya diri dan mencintai dirinya -- semua hal dari ia yang dulu. Sebab ia menolak sakit seperti dulu.

Ia marah mengapa ia harus berlatih bertemu manusia, berlatih kembali punya mimpi, berlatih mencintai hidupnya. Ia lelah, ia merasa latihan itu hanya sampah dan berguna diperuntukkan bagi orang-orang normal di luar sana, bukan untuknya. Persetan dengan berlatih, persetan dengan kembali ceria dan memiliki mimpi. Ia tidur lagi, lama.

Ia tidur hingga sore hari. Bangunnya, merasa lebih tenang dan waras. Saat panic attack selalu membuatnya jera bertemu orang-orang, tapi setelah lebih tenang, ia tahu ia membaik dan tak ada jalan lain selain terus berusaha membaik.

Senin, 11 Juli 2016

Lepas, Lepaskan

Ia ingin melepas semua marah. Selama ini marah yang bisa membuatnya cukup punya energi -- kadang kala berlebih -- untuk bertahan hidup dan melawan. Tapi ia merasa seharusnya cukup untuk merasa cukup. Ia butuh dari sekedar bertahan dan melawan, ia butuh hidup. Hidup dengan perasaan baik.

Selasa, 21 Juni 2016

Yang Hilang

"Hola, apa kabar?
Sebenarnya enggan menyapa kamu. Enggan mendahului. Aku dapat kabar dari beberapa orang,"

"Halo, bagaimana menurutmu?"

"Menurutku kamu lekas baik. Bila ada cara yg membuatmu kembali membaik, aku tentu senang"

"Aku sedang menempuhnya. Minggu depan janji bertemu dengan lembaga layanan konseling." 

"Menyibukkan diri juga bagus. Kerja-kerja untuk tujuan orang banyak."

" Saya beraktivitas; wawancara- dan mendengarkan cerita orang untuk ditulis, barangkali itu memang membantu saya untuk tidak tambah parah, tapi sejauh ini, sampai kemarin saya ada di titik ingin menyerah untuk sembuh. Karena saya berusaha tetap melaksanakan tugas-tugas, pekerjaan, aktivitas, semata agar saya masih fungsional. Tepat itu alasan saya kenapa masih hidup, agar saya masih berfungsi saja. Tapi kematian itu tidak juga menyingkir, Ia terus ada. Tapi saya juga tak kunjung bisa sembuh untuk bisa berinteraksi dalam lingkaran besar tanpa rasa frustasi, takut, lelah, tidak ingin terlibat percakapan. Dan saya juga masih belum kunjung mengerti apa yang dia lakukan pada saya mengapa bisa sampai seperti ini, sampai selama ini.

Saya kehilangan kemampuan tersentuh atas perasaan orang lain, saya kehilangan kemampuan untuk menghargai perasaan diri sendiri. Pragmatis saja, jalankan fungsi saja sebagai manusia. Maka pertemuan dengan orang-orang, mendengarkan mereka, yang biasanya dan seharusnya membuat saya tersentuh dan memperkaya batin, tidak bekerja. Saya terus bekerja, saya terus beraktivitas, tapi saya tetap terus ingin mati."

Kalimat-kalimat itu menyembur, rasa frustasi yang selama ini Ia simpan: mengapa Ia sudah tetap terus berusaha melanjutkan hidup, beraktivitas dan bekerja seperti manusia normal, itu tetap tak membantunya.

Jumat, 17 Juni 2016

The (Un)Sweetness of Doing Nothing

"Setelah berhari-hari di tempat A, tadi pagi-pagi saya memutuskan pulang, tidur. Sampai sore saya tidak bisa menggerakkan tubuh dari tempat tidur, menangis. Saat mencoba terduduk punggung membungkuk seperti tak kuat menahan punggung, saat mencoba berdiri kaki dan kantung air mata bergetar. Lalu saya kembali ke tempat tidur karena putus asa tidak bisa mengendalikan tubuh sendiri.

Kau tahu, ini sudah jelang magrib, seharusnya mandi dan menyiapkan berbuka, tapi kau tidak bisa mengendalikan tubuhmu. Bukankah itu makin membuatmu frustasi? Makin membuatmu membenci mental dan tubuhmu?

Itu mengapa saya benci kesendirian di kamar seperti ini. Saya tidak bisa apa-apa, saya mengerjakan pekerjaan yang bisa saya lakukan sembari tidur. Terjaga, lalu tertidur lagi, terjaga lalu tertidur lagi, begitu terus.

Saya ingin dijemput oleh orang, kehadiran orang lain membuat badan saya mau bergerak. Tapi saya juga tahu, orang-orang normal di luar sana beraktivitas, tidak seperti saya. Maka saya memutuskan kembali tertidur. Hey, saya bisa tidur kan, saya hanya tak bisa bangun. :)"

"Orang-orang di Itali gemar melakukan apa yang mereka sebut sebagai “Dolce far Niente". The sweetness of doing nothing. Kadang tidak melakukan apapun itu sedang melakukan apapun. Kecuali tentu saja bagi mereka yang sedang mengalami trauma, atau dalam kasusku kesepian dan patah hati, tidak melakukan apapun itu neraka.

Kamu dipaksa memikirkan hal-hal yang tidak perlu, membayangkan hal hal yang menyedihkan, dan merasakan sesuatu yang membuat kamu pedih.

Ada sebuah buku, jika kamu mau aku bisa meminjamkkan, Sejenak Hening judulnya. Tentang seseorang yang pernah menyintas dari penyakit berat. Kanker. Ia memberikan dan menceritakan bagaimana supaya kita bisa berdiam diri, bermeditasi dan memikirkan hal hal baik yang membuat tubuh kita merasa lebih segar, dan mempercepat pemulihan kondisi mental yang rapuh. Dulu aku pernah mencoba dan gagal, bukan karena buku itu buruk, tapi karena aku memang tidak pernah percaya hal-hal yang berbau new age. Tapi buku itu menenangkan, setidaknya membuatmu memikirkan hal lain yang tidak mau kamu pikirkan.

Yang paling berat adalah langkah pertama, keluar dari lingkungan yang membuat kita nyaman dan aman. Tapi kamu tahu, tidak ada kesembuhan yang mendadak. Semua butuh proses, dan setiap proses penyembuhan kadang menyakitkan (aku pernah jatuh dengan tangan terkilir dan demi Tuhan ketika diurut aku merasa lebih baik digampar saja pake menjalin).

Kita belajar dari rasa sakit dan bertahan. setelah itu kita baru bisa merinci, apa saja kemampuan yang hilang karena sakit itu.

Untuk berfungsi, kamu mesti hidup dulu, setelahnya pelan-pelan kita cari jalan keluar."

Kamis, 16 Juni 2016

Saya Ingin Sembuh

Malam itu, sepulang dari ajakan bicara, ia mendatanginya dengan separuh rasa percaya dan separuh rasa curiga yang ia rasa harus disimpan untuk siapapun, ia mengirim pesan,

"Saya ingin sembuh. Kamu tadi bertanya apakah saya bisa tidur atau tidak, saya jawab 'Bisa, kondisi saya memang tidak baik, tapi tidak seburuk itu.' Sebenarnya saya berbohong. Saya membohongi diri bahwa kondisi saya cukup baik. Bagaimana lagi?

Saya sebenarnya sulit tidur, lebih tepatnya saya tidak bisa tidur sendiri. Maka saya selalu berlari, saya kadang berhari-hari di rumah A, saya kadang tidur di tempat B, semata supaya tidak harus tidur sendirian. Saat saya sendirian, saya tidak bisa berfungsi, saya tidak bisa mengetik apapun, saya tidak bisa membereskan kamar, saya bingung, saya takut setengah mati membayangkan kalau saya harus bingung sendirian, karena olehnya saya tidak bisa mengerjakan apa-apa.

Maka saya terus-terusan berlari dari sendiri. Saya harus sembuh sampai ke tahap fungsi normal di mana saya tidak kebingungan kalau harus tidur sendirian. Saya ingin sembuh sampai di fungsi normal di mana saya tidak lelah, takut, bingung, tidak tertarik, harus terlalu memaksa diri, untuk berinteraksi dengan orang apalagi orang banyak.

Saya ingin sembuh sampai di tahap di mana saya merasa hidup ini memang layak untuk dihidupi. Sampai di tahap di mana saya tidak terus bertanya-tanya untuk apa saya terus hidup selain supaya tidak membuat Ibu saya terluka setengah mati kalau saya nekat bunuh diri. Tapi saya lelah bertahan hidup hanya demi orang lain. Saya ingin kembali hidup di mana saya sendiri yg ingin benar-benar hidup.

Kamu mau membantu saya? Menjadi caregiver saya?"

"Tentu."

Ia tahu, orang-orang ingin memukul orang itu untuknya, barangkali membunuh. Tapi ia juga tahu, ia hanya ingin sembuh, the rest is irrelevant, setidaknya untuk sekarang.

Pesan itu ia kirimkan dari Bumi kepada Bulan.

Selasa, 29 Desember 2015

Patah Hati Pada Dunia

Tidak ada yang lebih kuinginkan akhir-akhir ini, selain menghilang dari segala keriuhan. Menjadi petapa di Tibet. Atau kejauhan yang lain. Tidak ada yang lebih kuinginkan akhir-akhir ini, selain memutus bercakap-cakap semu dengan orang-orang. Hidup di kejauhan tanpa teknologi modern untuk berkomunikasi, menyepi dari orang-orang urban yang ribut.

Minggu, 01 November 2015

Lima

Ada hari buruk, ada hari baik. Tak jarang engkau begitu menyebalkan -- pemarah, tidak sabaran, meributkan hal-hal sepele yang membuatku terheran-heran: apa sebenarnya yang membuatmu marah? Kadang juga engkau begitu manis, seperti hari ini. Lembut, sabar, dan tampak penyayang.
Tentu aku berharap seperti kebanyakan manusia normal, engkau lebih sering manis dan jarang-jarang saja menyebalkannya. Tapi kupikir-pikir aku sudah jatuh cinta. Sehingga kamu yang sedang menyebalkan bisa saja terlihat manis, meski jika perasaanku sedang buruk ingin rasanya aku membanting pintu menghadapi kamu yang sulit (sudah sering kulakukan ya? haha).
Omong-omong, selamat mengulang lima.

Jumat, 16 Oktober 2015

Pangeran Kecil Sedang Murung

Kami kembali bertemu bertiga, setelah perjumpaan terakhir beberapa bulan lalu. Ahmad, Surya dan saya. Di pasar subuh yang menjual banyak kue. Saya senang bermain dengan mereka, terasa seperti putri yang bermain dengan dua teman pangeran kecilnya. Dua pangeran kecil yang baik hati dan menyenangkan.

Pertemuan kami tak sering, karena pekerjaan Ahmad dan Surya menyita banyak waktu. Selayaknya pekerjaan-pekerjaan di ibu kota. Seperti lirik sebuah lagu, "Waktu memang jahanam, kota kelewat kejam, dan pekeraan menyita harapan.*" Apalagi, tempat tinggal kami tak lagi berdekatan karena dua pangeran kecil berpindah. Saat masih di satu wilayah kerajaan, sepulang bermain, mereka selalu mengantar hingga gerbang kastil, lalu mereka menuju kastil masing-masing. Sekarang mereka juga masih suka mengantar, kadang memastikan sampai naik kereta, kadang salah satu dari mereka mengantar dengan kudanya. Mereka baik dan menyenangkan.

Setelah perkenalan kami hampir dua tahun lalu, kami bertemu dalam kondisi berbeda-beda. Kadang kami semua sedang bergembira, kadang salah satu dari kami sedang bersedih, kadang ketiga dari kami tidak tahu sedang gembira atau bersedih. Kali ini, Ahmad sedang murung.

Setiba di pasar subuh, mereja menghampiri saya di depan sebuah menara berlonceng raksasa, tempat janji kami bertemu. seperti biasa, kami saling melempar senyum dan bersalaman. Tapi senyum Ahmad tidak sesumringah biasanya. Saat berjumpa, kadang saya suka heran dengan senyum Ahmad yang sangat sumringah, mengingat ia pendiam dan mengaku suka kikuk. Kali ini, setelah melempar senyum, Ahmad lekas-lekas mengalihkan ekor matanya. Saya ingat-ingat, Ahmad suka mengalihkan ekor matanya dari sebuah percakapan atau orang bila ia belum merasa nyaman. Sebab Ahmad merasa dirinya tak mudah berinteraksi dengan orang lain. Karena kami sudah saling mengenal dan tak jarang bermain bersama, ekor mata Ahmad yang lekas berpindah pagi itu menandakan ia sedang murung.

Kami berjalan-jalan mengelilingi pasar dan kue. Setelah membeli kue yang kami suka, kami berbincang-bincang di kedai coklat. Ahmad dan Surya bercerita tentang liburan dan pekerjaannya. Ahmad baru saja keluar dari pekerjaannya. Saya tidak berani bertanya mengapa. Kadang kita tidak bertanya lebih jauh kepada teman karena takut mengganggu, atau takut teman tidak nyaman menceritakan kesedihannya. Padahal bisa jadi teman kita tidak masalah, atau bahkan mungkin ingin ditanya.

Yang saya ingat pekerjaan Ahmad sangat menyita waktu. Pernah, saat sedang cuti untuk pulang ke desa, ia berceloteh masih saja datang burung hantu dari ibu kota yang membawa pesan dari tempatnya bekerja. Burung hantu itu bolak-balik datang dan pergi. Kasihan Ahmad, kasihan burung hantu, mereka pasti ingin istirahat barang beberapa hari. Orang-orang dan burung-burung di ibu kota menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Mungkin orang dewasa memang tidak bisa tidak bekerja.

"Kita kan hanya terjebak di tubuh orang dewasa," kata Ahmad di kedai coklat sambil tertawa-tawa.

Bila kami bertiga mengobrol, kami selalu membicarakan sesuatu, membicarakan banyak hal, dengan tertawa-tawa.

Segera setelah keluar dari pekerjaan, Ahmad pergi berlibur ke Timur. Dari Timur, ia pulang (pergi) lagi ke ibu kota, lalu bertemu bertiga.

"Waktu di Timur, kulitku gosong oleh matahari. Aku beli ramuan pelindung dari terik matahari, tapi aku membelinya setelah kulitku gosong dan beranjak dari Timur. Percuma, absurd. Hahaa."

Ahmad sering merasa ia absurd. Seperti ia merasa ia kikuk. Kadang saya ingin protes, Ahmad teman yang cerdas dan lembut hati. Ahmad teman yang mudah memahami isi kepala orang lain. Mengapa Ahmad menganggap dirinya absurd, saya ingin protes. Tapi rasanya percuma.

Beberapa hari yang lalu, pengawal dari sebuah dinasti di ibu kota menghubunginya, pusat dinasti ingin Ahmad berkerja pada mereka. Ahmad belum merespons, tampaknya ia sedang sangat jemu. Ia ingin mengambil jeda. Ibu kota yang berpadu dengan pekerjaan menyita waktu memang bisa jadi sangat menjemukan. Jemu yang membuat kita seperti kehilangan arah, untuk apa sebenarnya semua ini. Untuk apa sebenarnya kita bekerja. Jika bekerja untuk hidup, mengapa hidup tak layak disebut hidup karena waktu dan mimpi-mimpi lucu malam hari habis dimakan pekerjaan.

Ahmad sedang ingin belajar bahasa Oz. Ia bimbang, akan belajar bahasa Oz di ibu kota, atau pergi meninggalkan ibu kota menuju Tengah atau Barat.

Belajar bahasa Oz memakan waktu seratus hingga seratus dua puluh bulan purnama. Ia ingin, setidaknya beberapa tahun di ibu kota, bila kelak ternyata ia harus pergi dari ibu kota, ada kemajuan yang bisa ia buktikan kepada dirinya sendiri, bisa bahasa Oz salah satunya. Ahmad gemar belajar.

"Ngerasa masih seperti anak kecil, kapan dewasanya"

Beberapa kali Ahmad mengatakannya. Pada pertemuan terakhir sebelum ini, Ahmad mengatakannya dengan tersenyum. Kali ini ia mengatakannya dengan murung. Mungkin Ahmad sedang menuntut banyak hal pada dirinya sendiri.

Kami mengobrol di kedai coklat hingga tengah hari. Mereka mengantar saya naik kereta, lalu pulang ke tempat masing-masing. Kami berjanji akan kembali bertemu bertiga di waktu entah kapan. Mungkin saat itu pangeran kecil sudah tidak murung. Atau mungkin kami bertiga murung semua. Mungkin memang seperti ini hidup orang dewasa.


*Lirik "Lagu Rantau" -- Silampukau




Senin, 21 September 2015

Sedih #2

Barangkali beberapa kehilangan adalah kesunyian masing-masing. Biasanya ia tidak suka membicarakan ini. Tiap kali rindu pada ayahnya datang, ia pulang ke sarang. Supaya tangisnya tidak terlihat oleh burung-burung lain. Karena hutan dan burung-burung akan ikut murung melihat tangis kehilangan sebesar itu.

Kadang ia berhasil menemukan alasan kenapa rindu Ayah, tapi sering juga tidak. Bila sedang rindu Ayah, ia tidak bisa menahan tangis. Tangis tersedu-sedu. Tangis yang tidak habis-habis. Tangis yang baginya tidak masuk akal. Karenanya, ia berusaha menemukan alasan kenapa rindu Ayah.

Bila sedang rindu Ayah, ia ingin kembali jadi burung kecil yang dinasihati Ayahnya. Ia ingin memutar waktu ke masa di mana beban hidup hanyalah masalah tempat bermain mana di hutan yang dibolehkan ayah ibunya dan mana yang tidak.

Sebenarnya ia tidak terlalu dekat dengan Ayah. Dulu ia tidak pernah terpikir akan kehilangan sebesar ini bila Ayah tiada. Karenanya kehilangan dan rindu Ayah yang menyiksa seperti ini baginya tidak masuk akal. Ia berusaha menemukan alasan kenapa ia rindu Ayah.

Semasa hidup Ayah adalah kepala ordo burung-burung di hutan. Ia mengabdikan hidupnya untuk kepentingan ordo. Bagi Ayah, mengabdi untuk ordo adalah mengabdi untuk jalan Tuhan. Ayah tidak sering mengobrol dengan anak-anak. Dengan ia dan saudara-saudaranya. Bila sedang tidak keliling melayani ordo, di sarang Ayah tak banyak bicara. Namun, Ayah galak perkara waktu dan belajar anak-anak. Ayah telaten, ia mengingatnya sebagai galak, mengajari anaknya terbang, mencari makan, berlindung dari musuh, dan mengingatkan anak-anaknya untuk teguh pada kebaikan.

Ia jarang kena marah Ayah, karena ia cakap belajar sendiri. Mungkin juga karena ia burung betina paling kecil. Bila petang tiba, anak-anak sudah harus di sarang. Karena malam hari banyak bahaya dan hantu-hantu mengintai di hutan. Malam adalah waktunya untuk beristirahat dan mengingat Tuhan. Kakaknya, burung jantan yang sering main menjelajah hutan hingga menjelang gelap sering dimarahi Ayah. Bila Ayah marah, semuanya diam, tidak ada yang berani melawan. Bila marah Ayah berlarut, biasanya Ibu berusaha meredakan Ayah.

Dari Paman Elang, yang ia temui setelah Ayah meninggal, ia jadi tahu kenapa Ayah berjarak dengan anak-anak.Suatu kali Ayah pernah bercerita pada Paman Elang, "Saya sengaja tidak terlalu dekat dengan anak-anak. Takut kecintaan yang terlalu pada anak-anak menghalangi tugas untuk mengabdi."

Sekarang ia dan saudara-saudaranya sudah besar. Hidup jadi burung dewasa tidak mudah. Harus mandiri, tak hanya dalam melindungi diri tapi juga dalam bersikap. Bila burung lain sedang menyebalkan, atau hutan sedang kisruh, ia membayangkan apa yang akan Ayah nasihatkan padanya. Bagaimana seharusnya bersikap pada burung yang menyebalkan, bagaimana seharusnya menyikapi kekacauan masyarakat hutan, yang tentu tidak sekadar hitam putih.

Setelah mengalami hal-hal buruk menjadi burung dewasa, ia menyadari betapa keras kepalanya Ayah. Semasa hidup, ada saja anggota ordo yang berbuat jahat pada Ayah. Tapi Ayah diam, Ayah tidak pernah membalas. Bukan karena tidak mampu membalas, setelah dewasa ia paham itu. Ia sendiri di waktu-waktu itu masih kecil, belum mampu membalas anggota ordo yang berbuat jahat pada keluarganya, pada ayah ibunya. Selain itu, ia juga belum memahami apa-apa yang terjadi. Kalaupun waktu-waktu itu ia sudah bisa membalas, pasti Ayah akan melarang. Ayah sering bilang, "Kita ini burung yang mengabdi untuk Tuhan, harus bisa bersikap."

Kekeraskepalaan Ayah dalam bersikap dan menanamkan nilai pada anak-anaknya, yang sering ia rindukan setelah hidup menjadi burung dewasa di hutan belantara. Ia juga sering rindu Ayah bila melihat kakaknya yang sudah besar dan punya anak tidak menjadi Ayah yang baik, yang tidak teguh dan peduli dalam mengajarkan nilai pada anak-anaknya. Ia berharap Ayah masih hidup dan memarahi kakaknya.

Ia juga sering bersikap buruk. Tidak menahan diri dari membalas berbuat jahat pada burung-burung yang menyebalkan. Ia berharap Ayah masih hidup dan menasihatinya bagaimana sebaiknya hidup yang tak hitam putih dijalani. Ia kini menyadari, meski selama hidup secara fisik Ayah tidak dekat, Ayah membuat nilai-nilainya tak hanya dekat, tapi menjaga dan senantiasa mengembalikan, bahkan saat Ayah sudah tidak ada. Ia rindu Ayah. Ia sering rindu Ayah, dengan atau tanpa alasan.



"It has been long day without you, I'll tell you all about it when I see you again. See you again."



Selasa, 11 Agustus 2015

Manusia

: Kalian kalau sudah besar nanti mau punya anak berapaa?

: dua

: dua atau tiga

: aku tujuh :3

: banyak amaaaat

:biar rame. aku suka rumah yang rame. tapi ngelahirin tu sakit sih ya

:aku takut ngga bisa ngedidiknya kalau banyak. tanggung jawabnya besar

: sejarah perempuan itu sejarah rasa sakit ya. dari haid, melahirkan, nyapih anak aja suka sampai demam.

: apa ya kita yang ngga sakit..

:kenapa sih kita harus melahirkan. kenapa ngga membelah diri atau bertunas aja biar ngga sakit

: kayak amoeba, atau pohon pisang

: emang kamu udah pernah ngerasain jadi amoeba? Siapa tahu membelah diri itu sakit

: iya ya. manusia memang suka sok tahu, bahkan terhadap amoeba dan pohon pisang

: siapa tahu amoeba sama pohon pisang itu waktu membelah diri menderita. mereka nangis

:( :( :(

Senin, 20 Juli 2015

Sedih #1

Ia sedih, belum pernah sesedih ini. Bukan ia jarang bersedih, meski bersedih biasanya ia masih mampu bertemu orang-orang. Tertawa bersama mereka, bersikap seolah-olah ia tak sedang bersedih. Hampir selalu berhasil. Tapi kali ini kesedihannya tak sanggup membuatknya berpura-pura. Ia tak mau menemui orang-orang.

Ia berkendara, pergi ke Selatan jauh. Menyetel lagu-lagu sedih kesukaannya. Melakukan perjalanan biasanya bisa mengobati rasa sedihnya. Jalanan lenggang, mungkin jalanan tahu ia sedang sedih. Jalanan tak enak hati bila membuatnya tambah bersedih dengan kemacetan yang kerap membuat orang marah. Orang yang mudah marah mudah bersedih. Atau jalanan ingin ia menikmati kesedihannya dengan syahdu, lagu-lagu sedih bisa didengarkan dengan khusyuk karena tak banyak bising klakson di jalanan. Bising klakson membuat orang mudah marah. Jalanan lenggang.

Sampai di Selatan jauh, ia mengurung diri. Di tempat asal ia juga dapat mengurung diri, tapi ia merasa harus berkendara jauh untuk mengobati rasa sedihnya, maka ia mengurung diri di Selatan jauh. Lagu-lagu sedih kesukaannya masih diputar. Lalu seseorang datang menemuinya. Ia sedang ingin sendiri, tapi tak terlalu masalah, di hadapan orang itu ia tak harus berpura-pura sedang tidak bersedih. Dengan wajah sedih, ia bertanya pada orang itu, "Bagaimana caranya supaya tetap jadi orang baik? Bagaimana.. bagaimana.." Orang itu tak punya banyak jawaban atas pertanyannya yang banyak. Alih-alih, orang itu menceritainya kisah seorang ibu.

Orang itu pergi, ia masih bersedih. Ia lalu tidur, berhari-hari, ia tak makan. Rasa sedihnya sanggup mengalahkan rasa lapar. Berhari-hari kemudian, saat rasa lapar yang sangat mengalahkan rasa sedihnya, ia berkendara lagi, mencari makan. Ia menemukan sebuah gubuk sederhana, makanannya enak sekali. Mengingatkannya pada kisah seorang ibu. Ia jadi gembira. Lalu ia berkendara, ke tempat asal. Berkemas-kemas, berkendara lagi, menemui orang-orang. ***


Jumat, 23 Mei 2014

(berusaha) Berhenti untuk Peduli

Kamu bilang aku telah memilih. Aku bilang aku tak punya pilihan selain mengakhiri. Hubungan yang kian memburuk. Harapan-harapan yang tak mencapai kesepakatan. Diam berkepanjangan yang memperburuk semuanya. Usaha-usaha memperbaiki hubungan yang hanya satu arah. Masihkah aku punya pilihan?



Sebelum kita saling menyakiti lebih dalam lagi. Sebelum kita tetap bersama hanya karena terbiasa. Cinta yang sulit dilepaskan namun sulit untuk dijalani. Mungkin aku kurang bersabar. Mungkin kita kurang berusaha. Mungkin beginilah hidup, semakin hari adalah perkara mengikhlaskan kehilangan-kehilangan. Dan yang tersulit selepas perpisahan kita adalah berusaha untuk tak lagi memperdulikanmu. Andai kamu tahu betapa sulitnya itu..

Senin, 21 April 2014

Hujan Meteor

Jangan bersedih. Hapus air matamu. Meski kamu tetap menawan bercucur air mata begini, tapi lebih manis bila kamu tersenyum. Lihat, bulan sedang bulat penuh. Pasti ia minta kita berdansa. Menari kesukaanmu. Salsa, tengo, cha cha? Kita berdansa sampai kamu mampu melupakan sedihmu.

"Tidak usah melakukan apa-apa. Cukup temani aku di sini. Katamu sebentar lagi, pukul satu dini hari ada hujan meteor. Aku ingin kamu di sini menggenggam tanganku saat aku memanjatkan doa."

Malam ini akan ada hujan meteor Quadrantid. Kita juga bisa melihat planet Mars di rasi Virgo yang terbit tengah malam ini. Saturnus di rasi libra, Jupiter di rasi Gemini juga akan menyapa kita.

"Apapun. Aku ingin menikmatinya bersamamu. Hanya dengan demikian aku bisa melupakan kesedihanku."

Minggu, 27 Oktober 2013

Di Sisa Waktu

Bila waktu untuk kita tidak tersisa banyak, apa yang ingin kau lakukan?
Kalau aku, aku ingin sering-sering mendengarkan musik yang menyenangkan bersamamu agar ada musik yang mengingatkanku pada kita, aku ingin memeluk punggungmu lama-lama, bercerita tentang banyak hal; masa kecil, ayah, ibu, orang-orang yang pernah hadir dalam hidup kita, atau obrolan tidak penting soal mengapa kamu suka sekali main game (tidak penting bukan? :p)
Aku ingin melakukan hal-hal yang selama ini jarang kita lakukan, entah mengapa (padahal aku sangat ingin melakukannya denganmu) -- jalan-jalan ke taman, lalu membaca buku di sana, atau mengobrol juga boleh, pergi ke air terjun, hutan atau gunung. Katanya ada air terjun dan hutan bagus di kota sebelah, tak perlu jauh-jauh. Seru bukan kedengarannya?
Aku ingin berkeliling kota ke tempat-tempat yang bukan kafe ataupun mall, seperti kota lama, pelabuhan, kawasan toko-toko tua.
Aku juga ingin sering-sering menonton film denganmu. Katamu Game of thrones yang baru pertengahan tahun ini tayang ya? Tapi aku ingin menonton film di bioskop. Haha, aku memang banyak mau.
Oh iya, masih ada lagi, aku ingin pergi ke gig-gig musik indie, dan acara-acara seni yang banyak dan kerapkali gratis di kota ini. Kota ini memang cukup menyenangkan untuk dijelajahi ya?
Dan yang terpenting, aku ingin melihat kamu bahagia, melihat kita bahagia di sisa waktu yang kita punya. I love you.